Semua pasti tahu kan demam Sinta-Jojo yang membuat heboh sampai ke media tradisional televisi itu? Saya hampir tidak habis pikir, kok bisa ya dengan begitu saja bisa sampai heboh bangat!

Uh Oh!
Tapi itulah yang kita alami. Penetrasi internet yang semakin terasa, dan mulai menjadi barang sehari-hari. Coba bayangkan bagaimana rasanya kalau kita tidak mengecek, email, facebook atau twitter selama 1 hari saja?
Pergerakan dunia maya yang mulai menjadi bagian erat dalam hidup kita ini terus berlangsung, efek samping nya ya Sinta-Jojo itu. Jujur saja saya memang tidak suka dengan apa yang mereka tawarkan, sepertinya semua orang bisa melakukannya. Kalau mau lipsync, menurut saya Moymoy Palaboy masih jauh lebih bagus kemana-mana.
Tapi awal mula kejadian Sinta-Jojo itulah yang menarik. Mereka hanya iseng. Tidak lebih tidak kurang. Nothing to lose.
Dengan melakukan sesuatu atas dasar iseng itulah maka tidak ada ketakutan yang berlebihan, kalau suka bagus, kalau tidak suka ya sudah, si pelaku tidak akan rugi. Saya rasa cara seperti ini bisa menjadi dasar dalam kita melakukan promosi atau marketing di dunia maya. (khususnya personal branding).
Salah satu kekuatan iseng-iseng adalah kejujuran. Kita tampil apa adanya, tidak di buat-buat. Di jaman sekarang ini sungguh jarang kita menemukan kejujuran seperti itu. Hal inilah yang membuat orang tertarik, apalagi kalau yang kita tawarkan bagus. Dalam hal Sinta-Jojo adalah pemilihan lagu Keong Racun (yang saya yakin ini sangat di dasarkan karena iseng, lucu-lucuan) dan penampilan mereka yang terbilang lumayan cantik, khas abg imut masa kini.
Ok, kejujuran sudah ada, tinggal menambahkan bakat kita disana. Tunjukanlah bakat kita kepada dunia (melalui internet). Saya percaya bakat akan menjadi lebih ‘bersinar’ apabila ada faktor kejujuran yang menyertainya. Yang bisa jadi contoh bagus adalah Audrey dan Gamaliel. Secara bakat mereka sangat-sangat berkualitas, tidak di ragukan lagi. Tapi cara mereka menampilkan bakat itulah yang terlihat apa adanya, jujur. Hanya dengan melalui Youtube (dengan setting kamar seadanya) sampai akhirnya berakhir di televisi lokal secara live.
Biasanya pelaku yang sudah mendapatkan ‘goal’ yang tak pernah di sangka-sangkanya ini akan merasa sulit mempertahankan kejujuran (rasa iseng-iseng) yang ada di awal. Saya mengerti, karena terkadang media juga bisa mengekspos habis-habisan sampai si pelaku tidak ada greget nya lagi. Layaknya orang berpacaran lama, sudah kenal luar dalam, jadi mulai berkurang rasa penasarannya.
Sekarang saya sendiri mulai bingung, apakah kekuatan iseng-iseng ini hanya sebatas roket peluncur saja? Kalau menurut kamu bagaimana? silakan berkomentar
Saya juga akan memposting lagi kalau sudah menemukan cara mempertahankan kekuatan iseng-iseng ini.
Designed by Richard Fang
Developed by zamdesign
© 2012 Richard Fang. All Rights Reserved.
kadang punya talenta tapi tidak eksis dan agak narsis agak susah berkembang juga..
makanya eksistensi itu perlu..
mengerahkan semua ide yang ada..
biar sukses kaya si richard..:D
huehhe bisa aja lo bro
ahahaha… setuju bro, iseng2 emang mengandung ketulusan dan kejujuran , apalagi sekarang mau jujur juga kadang2 malah bisa ngerugiin diri sendiri (yang ini tergantung sikon sih :p)…
Kalo kasusnya sinta-jojo selain ketulusan dan kejujuran ada juga faktor “kebetulan”… kebetulan cakep maksudnya… hahaha
Talenta yang bagus juga berasal dari “Iklan” yang bagus pula.
terkadang ada yang punya talenta tapi malu untuk menunjukannya (biasa disebut minder)..
salam kenal ya mas bro..
Ya gimana lagi sinjo bisa dibilang cukup cantik sih, jadi lebih populer daripada yg filipina itu…
ha analisa yg bagus, sy jd sadar waktu sy masih kuliah
banyak keisengan yg sangat produktif saat itu, dan i feel so alive!
tp setelah bekerja dan skr freelance koq kyknya sy mindset sy mulai
serius dan lebih berat menghadapi produktifitas.. well mungkin sy
harus “membangkitkan” semangat iseng2 nya lg, yg relevan tentunya
:p. Thanks chard, tulisannya inspiratif sekali!