Sedangkan suara penyiar radio berhamburan silih berganti dengan lagu pop lokal masa kini yang semakin membuat saya jenuh. Secara naluri mata saya menerawang ke seluruh sudut jalanan dari balik kaca mobil.

boom!
Dan terhenti pada papan iklan dengan rangkaian kata, “Ngebut mungkin lebih cepat, tetapi belum tentu selamat.” Membuat saya berpikir, “ya iyalah, siapa yang ga tau?”. Belum lagi di tambah dengan presentasi visual yang sama sekali tidak menarik. Sekedar informasi, komposisi foto si “orang penting” terlihat lebih besar daripada pesan yang di sampaikan.
Tapi sangat tidak adil kalau saya selalu menilai segala sesuatu dari presentasi visual saja. “Yang penting maksudnya baik, cuman caranya aja yang ga asik”, keluh saya dalam hati.
Tidak jauh dari papan yang tadi, terlihat lagi papan iklan si “orang penting” tersebut. Masih dengan gaya yang sama, baju yang sama, senyum yang sama dan dengan kata lain, foto yang sama. Namun sekarang pesan nya sudah berganti, “Go Green”. Masih juga dengan desain yang cheesy, di tambah gambar tangan memegang kantong belanja dari bahan daur ulang. Itu saja masih bukan foto si “orang penting” yang memegang kantong itu, “plis deh” saya mulai geram.
The point is, tidak ada yang peduli dengan cara penyampaian pesan seperti itu, belum lagi ego si “orang penting” yang tak terbendung itu, komposisi foto nya selalu lebih mendominasi pesan yang ingin di sampaikan. Saya yakin, yang pertama kali di lihat adalah foto diri nya!
Yang membuat saya berjibaku dengan emosi adalah masalah biaya. Setahu saya untuk memasang papan iklan di jalan raya utama yang besar sangat tidak murah. Saya sudah cukup lama dan sering melihat papan itu, rasanya sudah sekitar 3 bulan belum ada yang mengganti. Artinya, it’s a hell of a budget!
Kalau mau dibandingkan biaya iklan dengan impact/pengaruh yang di dapat, sangat tidak seimbang. Malah mungkin dampak nya menjadi negatif karena orang bosan dan kesal dengan iklan tersebut. Yang paling penting, saya masih belum tahu si “orang penting” itu namanya siapa, dan jabatan nya apa, sungguh masalah besar.
Saya mengerti kalau ini berkaitan dengan kampanye dan politik. Tapi di era modern seperti ini, masyarakat sudah sangat pintar mengatur kekebalan diri terhadap invasi iklan di berbagai media. Coba perhatikan seberapa cepat keponakan/ayah/ibu/saudara kita mengganti saluran tv kalau ada iklan? Seberapa sering kita dengan otomatis mengalihkan perhatian ke handphone pada saat iklan radio?
Dengan dana yang sebegitu besar rasanya bisa di manifestasikan dengan tindakan yang lebih manusiawi, seperti membuka workshop keterampilan (apa saja yang kreatif dan praktis) dengan gratis selama 1 minggu setiap bulan untuk masyarakat sekitar. Dan mungkin mendirikan institusi pendidikan kecil-kecilan?
Saya yakin cara-cara tersebut akan lebih efektif daripada membuat diri sendiri menjadi seperti produk. Produk yang akan terlupakan. Oh sungguh kasihan… (entah kita atau mereka..)
Ps: Kalau kamu penasaran dengan papan iklan yang saya bahas, lokasi nya ada di sekitar Alam Sutera dan ITC BSD.
Designed by Richard Fang
Developed by zamdesign
© 2012 Richard Fang. All Rights Reserved.
Yeah, sepertinya seseorang perlu menghubungi SBY agar segera mensahkan meresmikan KDRI, agar orang2 pemerintah yang kepekaan visualnya dibawah payah itu tidak membuang-buang uang pajak rakyat -_-
Mungkin yang di maksud mas richard semua itu seperti ‘polusi visual’ ya? karena si “orang penting” yang selalu mendominasi.
bisa disimpulkan untuk hal semacam kampanye politik seperti itu jelas si “orang penting” bener2 cari MUKA, caper di sekitar daerah pemilihannya.
Kalo ditanya apa efektif? yah masih mendinglah, dia nongol MUKA nya ‘berusaha kenalan’ ke orang banyak lewat media luar ruang itu walaupun terjadi ‘polusi visual’ sampai mas richard nulis ini. dibanding calon orang penting lain yang masih ngumpet mukanya.
Tapi untuk jadi pemimpin kalau cari muka bergaya kaya foto Model ya pasti jauh dari harapan untuk jadi pemimpin.
hasilnya dia mungkin gagal untuk dipilih, tapi berhasil untuk jadi foto model yang membuat ‘polusi visual’.
sama halnya disini mas..
Gubernur Jawa Tengah (Bibit Waluyo) jelas – jelas membabi buta untuk menjadikan dirinya foto model dadakan untuk semua iklan pemerintah ( paling banyak iklan PLN Jateng ). ampe muak… ternyata cita-cita beliau selain gubernur juga ‘foto model’.
Pada dasarnya setiap manusia memiliki narsisme yang tinggi. bisa saja konsultan politiknyalah yang mengusulkan seperti itu. dengan dangkal pesan, karena dipikiran mereka saat presentasi ” ah ni si bos jadiin modelnya aja, pasti gol, pasti mau dia, pasti mulus keluar uangnya” hahaha…
iya mungkin juga karena tim sukses nya si orang penting itu, miris aja ngeliat nya sih
setelah sekian lama, akhirnya update blog ini lagi
welcome back
Wakak, kekesalan memuncak ya Cat, sampe dibahas
huehehe iya nih Lix
Setuja banget.. Satu tindakan nyata lebih baik dari seribu kata2. Perasaan kita umumnya bosan dan jenuh , wong mereka buatnya pake duit dan jumlahnya pasti ga sedikit. Plus ga memandang nilai2 estetika.
Di Bekasi juga demikian.
Selamat atas update blognya!
udah gt kagak cakep cakep amat kan ya
main twitter juga loh dia, semua difollow ama dia haha
Hahaha, ada yg dongkol neh kayaknya, tapi begitulah mereka yg gak ngerti bagaimana mengambil hati rakyat. Buang2x duit utk iklan billboard yg gak kreatif sama sekali dan cuma bohong belaka. Asal tau aja, belanja iklan utk parpol wkt menjelang pemilu kemarin lbh gede drpd belanja iklan telekomunikasi. Sinting kan? Welcome to the messy & cheesy world, bro