Jangan jualan di jejaring sosial!

Oleh : Richard Fang / January 13, 2009

Jangan jualan di jejaring sosial! Jika kamu belum mengetahui esensi dari jejaring sosial itu sendiri.

Saya mengangkat topik ini karena barusan saya membaca beberapa blog tentang social media marketing di Indonesia. Yang salah dengan artikel-artikel itu adalah mereka mengedepankan uang!. Mengiming-imingi para pembaca dengan keuntungan yang besar (contoh: 1 bulan pertama 1 juta).

please, don't be like this my friend.

please, don't be like this my friend.

Sehingga inti dari melakukan marketing di jejaring sosial menjadi kabur, kebanyakan dari pembaca jadi menyimpulkan banyak teman, banyak trafik maka banyak duit!. Saya sangat tidak setuju dengan keadaan ini, malah kata salah satu teman plurker saya, Caleg dan politisi mulai meng-add dia di facebook. Dan tebak apa reaksi teman saya itu, “Accept engga ya?”. Sungguh ironi sekali bukan?

Nah, maka dari itu saya ingin meluruskan saja bahwa marketing dengan jejaring sosial itu intinya adalah membangun persahabatan. Ya, seperti kamu kalau pergi ke sebuah acara atau pesta saja. Tidak mungkin kan kamu datang ke pesta lalu berbicara mengenai bisnis kamu (atau menawarkan produk) dengan orang yang baru kamu kenal? Sungguh mengesalkan sekali pastinya dan orang pasti tidak akan ada yang ingin berteman lebih jauh dengan kamu (teman boleh banyak tapi sebenarnya mereka benar-benar tidak peduli pada kamu).

Lalu, tentang menjual kepada teman maya kamu tersebut. Jangan sekali-kali menjual langsung kepada teman kamu itu, cukup mereka tahu kamu melakukan bisnis apa, kesukaan kamu apa, dll. Bertemanlah dari hati, bukan karena menganggap teman kamu itu bisa suatu saat membeli produk/jasa kamu (prospek, refferal or whatever!).

Mengapa begitu? karena sesungguhnya yang  membeli produk/jasa kamu itu nantinya adalah teman dari teman kamu itu. Contohnya seperti ini, saya mempunyai akun Facebook, dan saya mulai berteman dengan orang lain (misal namanya Budi), di bagian profil saya, saya tunjukan sedikit bahwa saya mempunyai bisnis website design misalnya, dengan memajang portfolio di album foto saya (bukan primary foto, primary foto tetap foto saya sendiri), otomatis Budi  sudah mengetahui sedikit latar belakang saya.

Seiring dengan waktu pertemanan menjadi matang, saya dan Budi saling mengetahui latar belakang masing-masing, walaupun hanya sebatas online saja. Suatu saat Andi (teman Budi) bertanya kepada Budi, “mau bikin website perusahaan nih gue, lo ada kenalan ga?”, lalu karena menurut Budi saya orang yang asik di ajak berteman dan portfolio juga lumayan, maka Budi akan merekomendasikan Andi kepada saya, dan disitulah inti dari marketing melalui jejaring sosial. Bisa di bayangkan berapa banyak teman Budi yang lain, dan proses ini akan selalu berulang dan semakin memperbesar jaringan kamu.

Berikan sebanyak yang kamu bisa kepada teman kamu itu. Mulai dari yang paling simpel seperti  link video/gambar lucu, opini kamu tentang kejadian masa kini, bertukar pengalaman tentang pekerjaan dan kehidupan (curhat), dll. Karena di jejaring sosial ini, karma itu sungguh berlaku (bukan hanya di Plurk saja hehehe), semakin banyak kamu memberi, maka semakin banyak kamu akan mendapatkan.

Share and Enjoy:
  • Facebook
  • Twitthis
  • FriendFeed
  • del.icio.us
 

Ada 23 Komentar tentang posting ini


  1. Ivan @ NavinoT bilang,

    Well, I must agree with you totally. I think most people forget about ’social’ in ’social networking’.

    I will write more about this .. hehehe :)

    1
  2. Richard bilang,

    sure bro! :D wah di tunggu ni artikel nya :D

    2
  3. Pitra bilang,

    Haha.. Bener banget. Kemarin ada yg komentar di blog saya, seorang blogger dgn inisial JS. Saya lihat blognya. Kontennya bagus. Jualannya yang nggak bagus. Lagi-lagi dia jualan mimpi, melalui e-book ‘cara cepat kayak via internet.’ Dan setelah baca ratusan komentar yg muncul di setiap postingnya, hampir semua pengomentarnya ternyata penirunya, dengan ‘barang’ yang berbeda.

    Kalau kita melihat iklan2 kontekstual lokal, hampir semua isinya menjual mimpi pula. Sungguh menyedihkan memang, masih banyak yg berpikir cara berjualan di internet itu seperti itu. Pola pikir seperti ini yg harus diubah. Hehe, mungkin akan jadi bahan posting gw berikunya kayaknya..:P

    3
  4. Richard bilang,

    @ Pitra _ iya bro, sudah saatnya di kasih tau yg kayak gini2, write about this :)

    4
  5. Fikri @ Bloggingly bilang,

    Masa? Karma tidak berlaku di plurk dan jejaring sosial saja, di kehidupan nyata juga loh ;)

    Hmm, saya rasa, marketing dengan membangun persahabatan bukan hanya di jejaring sosial saja. Bukankah seharusnya pada semua marketing begitu?

    Lalu, saya kurang setuju dengan “Jangan sekali – sekali menjual langsung kepada temanmu! cukup mereka tahu kamu melakukan bisnis apa, kesukaan kamu apa, dll” . Apakah salah dengan memberikan penawaran langsung? Mengapa tidak “informasikan semua nilai tambah dan apa yang bisa anda lakukan untuknya ( penawaran ), lalu apapun hasil akhirnya, jadilah teman baik dia”

    Aduh, jadi berbeda pendapat semua nih. Tapi memberikan sudut pandang & diskusi adalah fungsi social media kan? :P

    5
  6. geblek bilang,

    pitra@ wah inisial JS sayakah :D , detik aja menerima iklannya sangar :)
    eniwe kadang manusia menggunakan jurus aji mumpung, mumpung byk temen mumpung ngiklan di jejaring itu gratis dan akirnya salah tempatlah mereka :)

    7
  7. Yep bilang,

    Bener Bro….tq

    8
  8. BudiTyas bilang,

    Sebuah warung bisa dipakai untuk berkenalan,berbagi, dan ngumpul bareng2 dgn rutin utk marketing & membangun relasi. Tapi warung yg sama jg bisa didatangi orang yg tahu2 pasang tulisan:’disewakan rumah..blah…blah.., call 08xxxx’. Dan bisa jadi laku juga.

    Social app itu kan semacam ruang publik, mirip warung tadi, jd memang mau ga mau hrs berhadapan dgn kepentingan yg berbeda2. Selama pemilik warung tdk melarang, tdk akan banyak perubahan…dimana ada keramaian, di situ tempat menarik utk “mengumumkan” dagangan.

    9
  9. Richard bilang,

    @ budityas _ yup bener bro, tapi yg penting etika nya harus ada yah.. waloupun di kasih kebebasan tapi jgn jadi spammer :P

    10
  10. BudiTyas bilang,

    Betuul…,moga2 para pedagang pada nurut..

    11
  11. Lany bilang,

    Setuju banget nih, annoying banget soalnya orang2 kayak gitu, ga asik banget.
    Dan menurut gw, ini juga berlaku buat di kehidupan darat soalnya gw sebel banget pernah di-sms-in teman lama ngajak ketemuan yg katanya pengen curhat, gosipan, cekakakcekikikan tapi setelah ditemuin gataunya nawarin MLM atau asuransi. Gile aje, aje gile!

    12
  12. Richard bilang,

    @ Lany _ duh itu jaman abis lulus sma tuh gue inget, ada juga temen gtu, temen sd tiba2 nyariin, lol!

    13
  13. Putri Sarinande bilang,

    huaaay, ada Jeung Lani. bener tuh Jeung, ngehe yg kyk gt…
    paling bener, jejaring sosial yaa utk mengoleksi teman ^.^

    14
  14. Siswo Nugroho bilang,

    Sepakat mas richard, SocNet bukan ajang jualan, tapi bukan tidak mungkin kalau kita hati2 dan beretika, SocNet bisa mendatangkan sale ke bisnis kita loh.

    Cuma sekali lagi etika bedagang tetep harus dikedepankan, meski batasannya sangatlah bias.

    15
  15. mumolabstudio bilang,

    wah setuju bgt bro,..
    emang kita harus saling kenal satu sama lain,..

    masalah rejeki dah diatur,…

    dan BANYAK temen BANYAK (peluang) rejeki,.. ckckck

    salam,

    16
  16. dekude bilang,

    bener banget bos
    ….intinya silaturahmi…kita bisa mengembangkan usaha….

    17
  17. cemputh bilang,

    naaaah, pinjem wat di MP saya yak. itu orang2 MP heran betul masi aja pada nyampah di buku tamu.. ;)

    jeung lany.. idem saya juga ud berapa kali dicekokin MLM rehe abis. paraaaah.. :D

    18
  18. Amsky bilang,

    Yap..saya juga setuju. but..but…tidak salahkah untuk profit? ..hmm, jika begitu jika ingin profitable pertama ya kuantitas yang dibanyakin, atau Marketingnya perlu kreatif lagi…

    20
    • Richard Fang bilang,

      sebelum kuantitas dan marketing, coba balik ke inti jualan nya, yaitu produknya itu sendiri, apa cukup berkualitas? (contoh yang saya sebut di atas jelas2 produk yang ga jelas hehehe)

      kalau produk nya udah berkualitas tentu marketing nya harus bagus juga

      untuk kuantitas tergantung (limited atau engga)

      21
  19. Tantono ND bilang,

    SAYA TIDAK SETUJU 100%
    Mungkin hanya 75% setuju dg pendapat tersebut bro ! … boleh dong.
    Menurut hemat saya, contoh jarsos (FB yang lagi trend2nya saat ini) memanfaatkan lalu lintas kunjungan agar para pemasang iklan tak bergeming dari pandangan (fakta), jelas pangsa pasar didepan mata. Pengguna mungkin tidak menyadari hal tersebut, bahwa iklan (notabene “jualan”) seabreg di situs jarsos tersebut. Ini menjadi peluang dan potensi tersendiri.
    Pandangan ini, bukan berarti karena saya juga mengelola situs jarsos serupa, tp karena hanya melihat dari sudut pandang yang berbeda.
    Saya, atau lebih tepatnya kami membangun situs jarsos pada awalnya memang sudah memiliki “mitra” dalam jejaring offline, nah dalam perjalanannya kami membangun situs jarsos untuk memberikan wadah sosialisasi dan komunikasi bagi para “mitra” kami baik secara offline maupun online. Deus di situs jarsos tersebut, amat sangat potensial dalam menawarkan bisnis (apapun), tentunya dalam batasan tata krama dan Non SARA.
    Terima kasih :)

    23

Ada 2 tautan balik

  1. Social: Kata Kunci Yang Sering Terlupakan | NavinoT 15 01 09
  2. Media-Ide » Blog Archive » Jangan Terpengaruh Kaya Cepat Lewat Internet 19 01 09

Silahkan Post Komentar Kamu





* Diperlukan
41
pembaca

Richard Fang

Desain / Pemasaran / Ide

Twitter Updates

    Follow Me!
  • Tentang Richard

    Memulai karir sebagai graphic designer di Thinking Room inc, sebuah studio yang memberikan banyak pengalaman dan pembelajaran dalam cara berpikir dan menghasilkan sesuatu.

    Lebih Jelas Lagi
  • Designed by Richard Fang
    Developed by zamdesign

    © 2009 Richard Fang. All Rights Reserved.