Biasanya menggunakan pendekatan fotografi, seni instalasi dan desain grafis. Saya sebut “lama” karena sebenarnya sudah ada dari dulu , hanya kita tidak menyadarinya. Sering lihat etalase di toko-toko baju? yang menggunakan maneqin, di tata sedemikian rupa mengikuti program toko tersebut? Nah itu salah satu contoh Hi Touch Visual yang paling umum.
Mungkin genre seperti ini bisa ada dan menjadi trend di kalangan grafik desainer (di Eropa khususnya) adalah karena penggunaan teknologi sekarang ini yang berlebihan, efek Photoshop dimana-mana, tidak ada lagi yang natural. Maka lahir lah pendekatan yang lebih tradisional namun kontemporer ini di dunia desain grafis. Mungkin juga sebagai bentuk perlawanan terhadap teknologi yang membuat semuanya menjadi tidak asli/real.
Kata kunci nya adalah meng-komposisikan suatu layout secara real, dengan benda sebenarnya. Coba bayangkan Photosop/Layout versi aslinya, dimana huruf menggunakan blok-blok kardus, pencahayaan dengan lampu, meja ya dengan meja aslinya, dan sebagainya, pokoknya semua nya asli di komposisi langsung (seperti seni instalasi).Lalu di foto, dan kemudian biasanya di proses menggunakan teknik komputer yang sangat minim sekali (hanya untuk mengetik huruf saja).
Di Indonesia sendiri genre ini belum begitu populer di gunakan, karena hasil akhir yang terkesan dingin, mempunyai cita rasa seni tingkat tinggi dan sangat kontemporer sekali sehingga tidak bisa di terapkan di sembarang tipe klien/brand. Sepenglihatan saya sudah ada yang menggunakan Hi Touch Visual, beberapa seperti EAT/347/Unkle, Thinking Room, dan majalah Concept sebagai cover art di salah satu edisinya.
Referensi : ManyStuff
Designed by Richard Fang
Developed by zamdesign
© 2009 Richard Fang. All Rights Reserved.