2 min read

Bagaimana Jasa Menggambar Sepatu Mengajarkan Saya Tentang Scaling The Business

0

Bagi saya pengalaman adalah hal yang paling berharga dalam hidup ini. Terutama jika pengalaman itu dapat kita serap maknanya dan dapat kita gunakan di kehidupan.

Kali ini saya ingin berbagi pengalaman ketika dulu pernah menjalankan jasa menggambar sepatu. Kala itu sekitar tahun 2008-2009, Kaskus dan Friendster masih merajai dunia internet dan seperti yang terjadi dengan Instagram saat ini, mulai banyak orang yang tidak hanya mencari teman di dunia maya tetapi juga mencari duit alias jualan online.

Menjual Sebuah Karya

Karena saat itu saya suka menggambar (doodling) dan sedang senang-senangnya mengeksplorasi visual secara gambar tangan, saya mulai menerapkan karya doodle saya di berbagai media, termasuk sepatu. Dimulai dari “iseng” belaka ternyata bisa menjadi usaha sampingan yang lumayan.

Saya memulai dengan menggambar sepatu saya sendiri, lalu saya post di forum Kaskus. Proses order dilakukan via thread Kaskus dan pemesan harus mengirimkan sepatu mereka lalu saya gambar dan kirim balik. Untuk tiap pasang sepatu yang saya gambar, saya berikan harga Rp 150.000,- belum termasuk ongkos kirim.

 

Setelah mulai mendapatkan beberapa customer saya mulai memikirkan cara agar mereka tidak perlu mengirimkan sepatu mereka lagi. Alasannya simple, bahan sepatu tidak bisa ditebak dan beberapa sepatu bukan sepatu baru sehingga ada aroma tertentu…

Akhirnya saya menawarkan paket lengkap (sepatu Vans KW + doodle + inisial nama) seharga Rp 250.000,- sudah termasuk ongkos kirim Jabodetabek. Respon yang saya dapat waktu itu cukup positif dan sempat kewalahan mendapat order 3 pasang dalam 1 waktu.

Proses & Flow Kerja

Disini saya belajar proses pembuatan karya. Setiap karya / produk mempunyai proses yang harus dijalankan.

Satu pasang sepatu memerlukan kurang lebih 4-5 hari pengerjaan. Dan pada saat itu semua proses saya kerjakan sendiri. Hal inilah yang perlahan membuka mata saya tentang bisnis dan bagaimana cara melakukan scale yang baik.

Orangtua saya sempat memberikan saran untuk mulai mempekerjakan orang lain untuk proses mewarnai sepatu, namun karena saya masih berjiwa muda dan idealis, saya mempunyai pemikiran bahwa customer memesan sebuah karya seni maka harus dikerjakan oleh sang senimannya itu sendiri. Well, tidak ada yang salah sih dengan pemikiran itu, namun bertentangan dengan konsep scaling the business.

Setelah menjalankan kurang lebih 6 bulan, saya memutuskan untuk tidak melanjutkan usaha ini karena saya tetap tidak melakukan scaling. Alhasil, saya jadi capek sendiri dan mulai menghitung profit yang ternyata tidak sebanding karena semua proses saya lakukan sendiri.

Intisari Pengalaman

Scaling the business tidak ada hubungannya dengan “sell out” sebagai artist (seniman). Siapa sih yang mau selamanya menjadi starving artist? Dan seniman mana yang tidak suka kalau karyanya bisa dinikmati oleh banyak orang? Apalagi kalau bisa memberikan impact kepada orang banyak. Saya yakin kita semua pasti mau!

Karya yang laku di pasaran tidak berarti karya yang mediocre. Kalau karya kita bagus dan memenuhi keinginan customer maka karya kita pasti akan dicari orang. Nah untuk memenuhi itu kita perlu memikirkan tentang scaling (proses produksi dan distribusi) sehingga bisa tercipta suatu sistem kerja yang efektif dan efisien.

Good Work hanyalah langkah awal. Tanpa proses scaling yang baik, Good Work hanyalah sekedar pajangan di kamar tidur semata.